Selasa, 17 Februari 2015

Tari Bedhaya Ketawang Warisan Budaya Solo


Kota Solo memiliki beragam kebudayaan lokal yang masih terus dilestarikan hingga kini, salah satunya adalah Tari Bedhaya Ketawang yang merupakan Tarian Klasik dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Bedhaya Ketawang  sendiri berarti Penari wanita di Istana. Istilah Ketawang berasal dari kata tawang yang bermakna Bintang di langit. 

Tarian tradisonal khas Solo ini sangat kental dengan adat budaya Jawa, tarian ini di bawakan oleh Sembilan penari Wanita Anggun dan Cantik dengan kostum dan riasan ala Pengantin Jawa.
Kesembilan penari tersebut memiliki nama masing-masing bernama : Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, dan Boncit. 

Nomor sembilan atau Boncit dapat di posisikan sebagai Maha Bintang para Ketawang.
Tarian Bedhaya Ketawang memiliki makna tentang adanya hubungan khusus antara Raja Mataram Panembahan Senopati dengan Ratu Laut Selatan atau biasa di sebut Kanjeng Ratu Kidul.

Puncak tarian Bedhaya Ketawang adalah tarian pada adegan cinta antara Ratu Pantai Selatan dengan Panembahan Senopati, tarian ini dibawakan secara Khidmat dan Sakral serta di iringi oleh Lima alat musik intrumen berupa Kendhang, Kenong, Gong, Kemanak, Kethuk dan selingi suara Sinden yang sangat merdu.

Setiap Gerakan Tari Bedhaya Ketawang memiliki makna yang berbeda – beda seperti gerakan peperangan atau biasa di sebut dengan Supit Urang dan Garuda Nglayang. 

Dalam proses persiapan pementasan, kesembilan Penari wajib mengikuti beberapa aturan dan menjalani ritual tertentu, sama halnya seperti seorang gadis yang ingin menikah.

Malam hari sebelum pertunjukkan di mulai para Penari harus tidur di Panti Satria yang merupakan kawasan paling suci di Istana Surakarta, di tempat itu pula semua peninggalan spiritual disimpan.
Latihan Tari Bedhaya Ketawang yang di gelar di Keraton Surakarta ini hanya di gelar setiap hari Selasa Kliwon atau di sebut sebagai Hanggoro Kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar